Catatan Sebuah Penghargaan

…Sebuah Penghargaan…

Jasa seorang guru sangatlah besar bagi seorang murid. Seorang murid tentu tak akan bisa berkarya dan berprestasi tanpa ilmu yang diberikan oleh sang guru. Sebagai seorang manusia pembelajar tentunya kita juga dituntut untuk belajar dari siapapun yang memang berkompenten di bidang tertentu. Dan sebagai seorang murid yang menghormati guru yang telah memberikan banyak inspirasi dan ilmu, ucapan terima kasih tentu tak akan lupa untuk disampaikan. Dalam perjalanan dakwah saya di kampus, sejak tingkat satu, ada beberapa guru bagi saya yang telah memberikan saya sebuah pemahaman dan pengalaman tersendiri. Pada kesempatan ini saya ingin memberikan sebuah penghargaan kepada para guru saya berupa ucapan terima kasih sebagai bentuk rasa hormat saya kepada mereka.

Agus Rendy Wijaya. Teknik Perminyakan ITB angkatan 2002. Kepala Departemen of Human Resources and Learning Development GAMAIS ITB periode 2005-2006. Beliau adalah sosok pemimpin pertama untuk saya di kampus. walau hanya kurang dari 8 bulan beramal bersama beliau. Tapi bisa dikatakan, pola saya memimpin dan pola saya mengambil kebijakan sangat terpengaruh oleh beliau. Satu prinsip hidup dan bersosialisasi yang selalu beliau ajarkan adalah empati. Satu kata ini selalu menjadi landasan saya bertindak dan nilai empati ini juga selalu saya coba tularkan kepada kader lain. Selain itu dalam konteks dakwah nilai empati ini saya sering terapkan dalam menjalankan agenda syiar give what they need.

Hafidz Ary Nurhadi. Teknik Elektro ITB angkatan 1998. Orang yang menyelematkan saya di awal masuknya saya ke kampus ITB. Sedikit bercerita, ketika awal masuk ITB saya berpikir untuk berhenti melanjutkan pembinaan dan dakwah yang telah saya jalankan sejak SMU. Tapi, sebuah rekayasa dari Allah, dalam sebuah pertemuan awal GAMAIS, saya mendengar motivasi dakwah dari sosok Kang Hafidz ini. Berkat perkataan beliau inilah saya memutuskan untuk tetap bertahan di jalan dakwah ini. Setelah pertemuan itu, saya dan beliau sering melakukan interaksi dan hal yang beliau tekankan adalah agar kita sebagai kader dakwah mempunyai visi dakwah yang panjang serta beliau yang selalu menekankan pentingnya jumlah kader yang banyak dalam menunjang dakwah kampus yang semakin hari semakin berkembang.

Rendy Saputra. Teknik Perminyakan ITB angkatan 2004. Sekjen GAMAIS ITB periode 2006-2007 dan Ketua Majelis Syuro GAMAIS ITB 2007-2008. Seorang kakak yang Allah pertemukan karena ikatan dakwah untuk saya selama di kampus ITB. Beliau yang mengajarkan kepada saya pola baru dalam dakwah, beliau yang mengajarkan bagaimana seorang kader dakwah itu seharusnya bersikap, beliau yang mendidik saya untuk bisa berkomunikasi melalui berbagai media, beliau yang paling mendukung saya ketika saya menjadi Kepala GAMAIS dan membuat buku pertama dan kedua saya ini, beliau yang menekankan kepada saya agar memiliki kepahaman yang kuat dalam bertindak, beliau yang memahamkan kepada saya urgensi kaderisasi dalam lembaga dakwah kampus dan beliau lah yang menginsipirasi saya agar menjadi idea factory  dalam perjuangan dakwah ini.

Herman Siregar. Mantan Ketua Umum LDK UKMI Ar Rahman Universitas Negeri Medan. Seorang pejuang dakwah yang mengajarkan kepada saya kesederhanaan dalam berdakwah, seorang koordinator PUSKOMDA sumatera utara yang mencontohkan kepada saya tentang keikhlasan dalam menjalankan LDK.  Seorang yang memberikan inspirasi kepada saya untuk bisa berkarya dengan tulisan. Seorang yang setelah pertemuan dengan saya meng-sms “cahaya harapan akan perubahan dakwah kampus terlihat jelas di tatapan mata antum”. Potongan sms ini jujur menjadi sebuah tantangan tersendiri agar saya bisa berkontribusi. Dan beliau pulalah yang menanamkan urgensi menghargai sejarah sebagai sebuah ciri bangsa yang berkarakter.

Hasdi Putra. Mantan Ketua Umum LDK FKI Rabbani Universitas Andalas dan Mantan Ketua PUSKOMNAS FSLDK. Tokoh nasional dakwah kampus pertama yang saya temui, kalimat pertama saya yang saya dengar dari beliau adalah “Alhamdulillah tiba juga di medan, setelah 2 hari perjalanan dengan bus”. Bagi saya yang awam dan baru belajar dakwah kampus saat itu, perkataan beliau itu sangat membuat saya terkagum akan pengorbanan dakwah yang beliau lakukan. Sempat bermalam dengan beliau, disanalah ia menceritakan tentang ADK, LDK dan FSLDK dan sejak malam itu saya mulai berikrar dalam diri bahwa suatu saat saya akan menjadi orang yang berkontribusi besar untuk percepatan dakwah kampus di Indonesia. Salah satu ciri khas beliau dalam berbicara adalah ketenangan dalam berkata dan di iringi pantun dan puisi yang membakar semangat. Salah satu perkataan beliau yang sangat berbekas adalah jika kamu merasa bahwa beban dakwah ini terlalu berat, jangan berdoa agar beban itu dihilangkan, tapi berdo’alah agar kamu diberikan punggung yang kuat agar bisa menanggung beban dakwah ini. Hingga lelah, lelah mengejar kamu.

Arya Sandhiyudha. Mantan Ketua LDK SALAM UI dan Penulis Buku Renovasi Dakwah Kampus. Seorang yang menginspirasi saya untuk melawan status quo dakwah kampus. Beliau pula yang mengajarkan saya untuk mendobrak dan melawan kebobrokan sistem dakwah kampus yang ada, Sebuah perkataan beliau yang juga saya coba terapkan adalah, untuk mengubah sesuatu, kita harus jadi sesuatu. Kalau antum mau mengubah sistem dakwah di ITB, maka jadilah Mas’ul terlebih dahulu. Jangan tergesa-gesa dalam bergerak akhi semua hal pasti ada waktu yang tepat. Ya, perkataan beliau ini saya coba terapkan ketika GAMAIS memilih saya menjadi Pemimpin. Beliau pula yang menadi pemicu bagi saya dalam menulis buku-buku dalam dakwah kampus. kalau ana bisa , antum pasti bisa lebih baik, ana sudah mulai membuka jalan, antum harus bisa meneruskan efek bola salju perubahan dakwah kampus. prinsip hayawi atau dinamis, inilah yang menjadi hal paling berbekas dari beliau.

Dani Setiawan. Mantan Ketua LDK Jamaah Nuruzzaman Universitas Airlangga dan Ketua PUSKOMNAS FSLDK saat ini. Seorang syekh dakwah kampus nasional saat ini, pemimpin saya di dalam perjuangan bersama FSLDK. Secara pribadi beliau banyak memberikan kepercayaan kepada saya dan GAMAIS ITB untuk banyak berperan dalam dunia pelatihan LDK. Sabar dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil kebijakan, pertemuan dengan beliau seakan-akan menjadi sebuah pembelajaran bagi saya yang sering terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Saya terkadang merasa Allah mempertemukan kami sebagai peringatan dari Allah agar bisa lebih bijak dalam bertindak. Saat ini beliau juga sedang menulis buku tentang dakwah kampus.

Dr. Brian Yuliarto. Teknik Fisika ITB angkatan 1994. Mantan Ketua KAMMI ITB, Mantan Menteri Sospol KM ITB dan juga merupakan aktifis 98. Seorang yang memberikan pencerahan kepada saya tentang karakter seorang kader dakwah. Seorang yang mendorong saya untuk belajar dan melek politik dan keadaan sosial masyarakat saat ini. Beliau yang memotivasi saya untuk berprestasi secara akademik, beliau yang mengajarkan fleksibilitas dalam berdakwah dan melalui beliau pula saya jadi memahami sejarah dakwah kampus serta perjuangan heroik kader dakwah terdahulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s