Senioritas Dalam Tubuh Dakwah

Senioritas Dalam Tubuh Dakwah

Di kampus kami, terjadi permasalahan senioritas dalam organisasi, dimana dominansi kakak tingkat berlebihan, dan seakan menganggap kami hanya mesin yang bisa disuruh, bagaimana mengatasi masalah ini ?

Permasalahan seperti ini adalah masalah individual yang menurut pengamatan saya jarang terjadi di sebuah lembaga dakwah. Akan tetapi, saya berpikir, siapa tau masalah ini memang terjadi akan tetapi tidak banyak yang mau mengungkapkannya. Permasalahan ini timbul dengan berbgai sebab, antara lain ketidakpercayaan terhadap adik tingkat atau sense of belonging  yang berlebihan. Ketika masalah ini tidak diselesaikan dengan segara maka akna menjadi sebuah tradisi di dalam tubuh lembaga dakwah tersebut, ini mengakibatkan keberkahan dalam dakwah terancam ,karena persaudaraan diantara kader retak. Perlu kiranya sebuah komunikasi dua arah untuk menyelesaikan masalah ini, agar semua pihak dapat terfailitasi kebutuhannya.

Untuk menjawab pertanyaan ini, sama seperti saya ketika menjawab pertanyaan ini dalam sebuah diskusi, saya menggunakan referensi dari kakak tingkat saya, salah satu kader yang telah mengajarkan kepada saya apa itu makna “empati”, Agus Rendy Wijaya, beliau adalah kepada departemen human resource and learning development, departemen pertama yang saya masuki di GAMAIS. Berikut merupakan kutipan dari tulisan beliau yang berjudul Kesombongan dan Senioritas Bukan Sifat Da’i.

Sesungguhnya yang berikrar Robb kami adalah Allah, kemudian beristiqomah, niscaya para Malaikat turun (membawa berita), jangan kalian merasa takut dan sedih, bergembiralah dengan syurga yang dijanjikan. Kami adalah pelindung kalian dalam kehidupan dunia dan di akhirat kelak, di sana bagi kalian apa yang diinginkan dan yang diminta. Yang diturunkan dari Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Siapakah yang lebih baik perkataannya dari orang yang berdakwah ke jalan Allah dan beramal salih serta berkata sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim (QS Fushilat:30-33)

Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberkahi persaudaraan kita.

Penghargaan Allah terhadap kita tersebut bukan untuk dibanggakan, lalu merasa tinggi hati, apalagi ujub –na’udzubillah min dzalik- terhadap diri dan menyombongkan diri dengan meremehkan orang lain. semua itu perbuatan terlarang, bahkan tidak pantas rasanya seorang yang diberikan kemuliaan sebagai da’i melakukan sikap dan perbuatan itu.

Lebih dari pada itu –ikhwani- sikap dan perilaku sombong, serta merasa tinggi hati mengakibatkan kerusakan struktur hubungan antara sesama. Bayangkan! Jika manusia saling merendahkan dan meremehkan yang satu dengan yang  lainnya. Tidak saling hormat, tidak ada kewibawaan, tidak ada trust (saling tsiqoh), tidak ada etika, tidak menghormati tatasusila, apa jadinya kehidupan ini jika itu yang terjadi?. Apa gerangan yang membuat seseorang menjadi sombong, merasa tinggi, merasa lebih hebat dari orang lain ?

Ilmu yang dimilikinya ? Tidak ada yang harus dibanggakan dari ilmu yang kita miliki. Ilmu itu pada hakekatnya milik Allah, Dia mengajarkan kepada kita sedikit dari ilmuNya, maka justru ilmu itulah yang seharusnya memberikan rasa takut kepada Allah :

Sesungguhnya yang paling takut kepada Alloh dari hamba-Nya hanyalah ulama

Atau seseorang bangga dan merasa tinggi hati karena amal-amal dan aktifitas ibadahnya yang begitu banyaknya ? Bukankah seharusnya semakin tinggi keimanan seseorang dan ketakwaannya, semakin ia merendahkan hatinya, baik ke hadirat Allah swt, maupun kepada manusia ( Adzillatin ‘alal Mu’minin a’izzatin ‘alal kafirin ), rendah hati di hadapan orang beriman dan tegas di hadapan orang kafir. Nabi Muhammad saw saja sebagai khoiru khalqillah (sebaik-baik makhluk Allah) dan orang yang paling takwa dari umatnya, masih dipesankan Allah swt dalam firmanNya:

Rendahkanlah hatimu kepada pengikutmu orang-orang mukminin (QS asy-Syu’ara: 215).

Bahkan merasa lebih banyak amalnya, lebih tinggi kedudukannya di dalam gerakan dakwah karena merasa lebih dulu aktif dan lebih senior, akan membuat dirinya lebih hina dan lebih buruk dalam pandangan Allah swt. Simaklah pesan-pesan teladan kita Nabi Muhammad saw:

Jika kamu mendengar seseorang berkata “semua orang rusak”, maka dialah orang yang paling rusak (HR Muslim).

Cukuplah keburukan seseorang, karena ia menghina saudaranya sesama muslim (HR Muslim).

Nabi Muhammad saw juga mengingatkan dalam sebuah hadits: “Seorang yang berbangga dengan keturunannya, sungguh ia menjadi arang api neraka, atau lebih rendah dari hewan yang bermain-main di kotoran sampah” (HR Abu Daud dan Tirmizi, beliau meng-hasan-kan hadits ini).

Saudaraku,  semoga Allah senantiasa menjaga dalam ketaatan kepada Allah.

Salah satu fikroh dakwah kita adalah “Salafiyah” yang menuntut kita untuk meneladani pendahulu pendahulu kita yang shaleh dalam sifat rendah hati mereka. Tidak ada yang merasa lebih hebat betapapun tinggi ilmu yang mereka miliki. Mereka tidak merasa lebih senior betapapun mereka lebih dahulu berbuat dan aktifitas jihad mereka lebih banyak.

Kepemimpinan Nabi Muhammad saw memberikan keteladanan kepada umatnya dalam sikap tawadhu’, sebagaimana berita yang diriwayatkan Anas bin Malik, ia berkata: “Meskipun (kita tahu) bahwa para shahabat adalah orang yang paling cinta kepada Rasulullah, namun mereka tidak pernah berdiri menyambut kedatangan Rasulullah saw, karena mereka tahu bahwa hal itu tidak disenangi Nabi saw” (HR Tirmizi, hadits hasan).

Siapa yang tidak mengenal Abdur-Rahman bin Auf yang sangat disegani di kalangan kaumnya. Namun kepiawaian dan kesenioran beliau tidak membuat dirinya tinggi hati sampai kepada pelayannya sekalipun, hal itu dikisahkan oleh shahabat Abu Darda’: “…..Abdur-Rahman bin Auf sulit dibedakan dengan pelayannya, karena tidak nampak perbedaan mereka dalam bentuk lahiriyahnya”. Duduk sama rendah berdiri sama tinggi, kira-kira peribahasa itulah yang digunakan.

Demikian pula kehebatan Imam Hasan Basri dalam ilmu agama tidak memperdayakan dirinya menjadi seorang yang ‘sok’ atau merasa lebih hebat di hadapan teman-temannya. Suatu saat Hasan Basri berjalan dengan beberapa orang, orang-orang itu berjalan pada posisi di belakang Hasan Basri, maka Hasan Basripun mencegah mereka (melakukan itu), seraya berkata: “Tidak benar hal ini dilakukan setiap hamba Allah ?”.

Sosok Tabi’in seperti Abu Sofyan ats-Tsauri ternyata juga benar-benar teruji sifat tawadhunya. Saat beliau berkunjung ke Ramallah (di Palestina), Ibrahim bin Adham mengutus seseorang kepada Sofyan untuk meminta agar ia datang bersinggah ke rumahnya, seraya berkata: “Wahai Sofyan kemarilah untuk berbincang-bincang”.Saya ingin menguji ke-tawadhu’-annya”. Sofyan pun mendatangi Adham. Ketika Adham ditegur seseorang “Mengapa kamu berbuat demikian”. Adham menjawab “

Demikian pula jabatan dan kedudukan tidak layak dijadikan alasan untuk berbangga diri apalagi mengusungkan dada “akulah orang besar”. Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa Umar bin Abdul Aziz ra kedatangan seorang tamu saat ia sedang menulis, saat lampu padam karena terjatuh, sang tamupun berkata: Biarkan aku ambil lampu itu untuk aku perbaiki ! Umar Sang Khalifah berkata: Tidak mulia seseorang yang menjadikan tamunya sebagai pelayan. Tamu itu berkata lagi: “Atau saya minta bantuan anak-anak”. Umar Amirul Mukminin berkata: Mereka baru saja tidur (jangan ganggu mereka)”. Kemudian Sang Khalifah pun beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil lampu itu dan memperbaikinya sendiri. Tamu itu terheran-heran seraya berseru: “Wahai Amiril Mukminin, engkau melakukannya itu sendiri ? Amiril Mukminin berkata: “Saat saya pergi saya adalah Umar, saat saya kembalipun  saya adalah Umar, tidak kurang sedikitpun dari saya sebagai Umar. Sebaik-baik manusia adalah yang tawadhu di sisi Allah swt”. Subhanallah

saudaraku, orang-orang yang berhimpun dalam mahabbah dan keridhoan Allah sejatinya mengenyahkan sifat sombong, ‘sok’, senioritas apalagi figuritas. Hiasilah diri Antum dengan tawadhu’, rendah hati, selalu merasa memerlukan tambahan ilmu, pengalaman dan merasa saling butuh dengan  sesama ikhwah lainnya.

Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung. Semua itu kejahatannya amat dibenci di sisi Tuhanmu (QS al-Isra: 37-38).

Potongan tulisan diatas merupakan sebuah tausyiah yang bisa berguna untuk kita semua dalam menjalankan amanah dakwah yang diemban. Tidak ada yang lebih baik antara kita dan adik  tingkat atau kakak tingkat  Anda. Jadikan sesama kader adalah partner  dalam berdakwah, jadilah seorang kapten tim ketimbang menjadi diktator. Bukalah ruang menyampaikan aspirasi dan berikan kepercayaan dan kesempatan agar adik-adik kita bisa berkembang. Dakwah yang kita bangun bukanlah membentuk figuritas yang berlebihan, dakwah ini akan terus berjalan, oleh karena itu kita perlu menyiapkan penerus dengan segera.

Referensi : kesombongan dan senioritas bukan sifat da’i, Agus Rendy Wijaya

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s