Tarik Menarik Kader Dakwah

Tarik Menarik Kader Dakwah

Seringkali terjadi tarik menarik kader antar lembaga dakwah, karena setiap lembaga dakwah ingin memiliki seorang kader tertentu, bagaimana cara untuk mengatasi hal ini ?

Tidak bisa dipungkiri memang kebutuhan akan kader dalam lembaga dakwah kampus saat ini masih kurang dari kebutuhan. Alasan utama hal ini bisa terjadi adalah karena kurang berhasilnya proses kaderisasi untuk mencetak kader dalam jumlah yang cukup untuk aktifitas dakwah di sebuah kampus, dan ketergantungan kita pada kader yang sudah matang kadang terlalu berlebihan sehingga peran kaderisasi dalam LDK tidak berjalan. LDK lebih senang mendapatkan kader yang sudah jadi atau matang ketimbang membina kader baru dari awal hingga ia menjadi kader yang kuat secara pribadi dan berpengaruh dalam struktur sosial kampus.

Kebiasaan seperti ini harus mulai ditinggalkan dalam dunia dakwah kampus, karena bagaimana pun kita perlu kembali ke hakekat peran lembaga dakwah, yakni kaderisasi dan syiar. Ketika salah satu dari peran ini saja tidak ada, maka tidak bisa dikatakan sebagai lembaga dakwah.  Terlepas dari segala peran yang belum optimal, kita pun perlu menyelesaikan masalah tarik menarik ini sesegera mungkin. Karena bagaimanapun masalah tarik menarik ini jika tidak diselesaikan dengan segera akan berakibat pada beberapa hal, antara lain ; (1) keretakan ukhwah antar dua lembaga dakwah ; (2) kebingungan pada kader dakwah ; dan (3) pembuhunan karakter kader yang tampak seperti mesin dakwah yang bebas untuk dipindah-pindahkan.

Kader dengan peran yang diberikan ibarat tumbuhan dengan habitatnya. Dimana kaktus hanya bisa hidup di padang pasir dan rumput laut hanya bisa hidup di laut. Begitu pula kader, seorang kader akan bisa berperforma dengan baik jika ia ditempatkan di tempat sesuai potensi dan minat yang ia miliki. Permasalahan yang sering terjadi dalam tarik menarik ini biasanya antara lembaga dakwah pusat dengan lembaga dakwah wilayah.

Kunci utama dalam menyelesaikan masalah ini adalah database yang valid. Biasanya sistem administrasi yang baik akan berdampak pada pendataan kader yang tidak baik pula. Data yang dimiliki terpisah-pisah, dan lembaga dakwah berasumsi bahwa kader hanya aktif di lembaga dakwahnya saja, akibatnya lembaga dakwah menjadi tidak mengetahui bahwa ternyata ia memiliki kader yang memiliki peran dimana-mana. Dengan memiliki database yang lengkap, valid, dan termutakhirkan, solusi kunci dari permasalahan ini bisa terselesaikan.

No

Nama

NIM

Mobile Phone

Prodi

Angkatan

Amanah #1

Amanah #2

Amanah #3

1

Ridwansyah Yusuf

15405046

+62 812 84111

PL

2005

G1

HMP

LDF MUSA

2

Muhammad Yunus

13205099

+62 856 98888

PN

2005

KMPN

LDPS ISA

LDF TMD

3

Ruly Resfiandi

12305088

+62 815 73211

GL

2005

Kongres

GEA

LDF ITB

                Contoh database

Data yang ada di tambahkan dengan peran atau amanah yang diemban saat ini dan diurutkan tergantung prioritas dan minat yang kader ingingkan. Dengan adanya database yang lengkap dan meliputi seluruh kader dakwah di kampus, maka asymmetric information akan peran kader akan teratasi. Setelah pencegahan di lakukan barulah masuk ke dalam penyelesaian instan masalah tarik menarik kader jika masalah ini terlanjur terjadi.

Kemampuan identifikasi minat dan potensi kader

Kepahaman pemimpin akan kadernya sangat diperlukan dalam menyelesaikan hal ini. Seorang pemimpin disini atau setidaknya koordinator manajemen SDM dituntut untuk mengetahui apa yang kader senangi dan lingkungan dakwah mana yang membuat dirinya menjadi lebih bermanfaat dan produktif. Terkadang kader akan lebih banyak berkarya jika ia senang dengan apa yang ia kerjakan dan nyaman dengan lingkungan tempat ia berdakwah. Ada kader yang senang membahas sesuatu yang dalam lingkup makro ( kampus ) ada pula kader yang senang tuk membahas dalam lingkup mikro ( program studi ). Dengan mengetahui apa yang menjadi minat kader, maka permasalahan ini akan selesai dengan mengembalikan ke minat dan potensi kader itu sendiri. Walau dalam beberapa kasus diperlukan kebijakan khusus jika permasalahannya terkait kebutuhan dakwah.

Adanya forum tim manajemen kader semua lembaga dakwah

Forum tim manajemen SDM diperlukan untuk memetakan kebutuhan dan distribusi kader di semua lembaga dakwah. Di pertemuan tim manajemen kader ini dibahas mengenai proyeksi kader, evaluasi kinerja kader dan distribusi kader yang disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan dakwah kedepannya. Harapannya memang tim ini yang juga akan membahas tentang profil kader serta cara untuk mematangkan kader secepat dan sebaik mungkin. Seperti yang dipaparkan diatas, bahwa solusi pencegahan yang bisa dilakukan pula adalah dengan mencetak sebanyak-banyaknya kader dengan kualitas yang baik.

Membuat fokus amanah kader pada tingkat tertentu

Membuat carrier path  untuk kader sejak dini. Sebutlah seorang kader pada mulanya bebas untuk berdakwah di lebih dari satu lembaga dakwah. Akan tetapi pada tingkat dua ia mulai di fokuskan pada lembaga tertentu, sebutlah LDK, dan pada tingkat selanjutnya ia mulai fokuskan pada bidang tertentu sebutlah kaderisasi, sehingga ketika menjadi top management  di sebuah lembaga Ia memiliki pengalaman yang matang dan proses yang ia jalani ibarat dibina dengan proses karir dalam pekerjaan, dimana ia mengalami sebagai seorang magang, low management, middle management dan top level management. Biasanya seseorang yang sudah memiliki kecenderungan dan pengalaman di lembaga tertentu, ia akan memiliki pendirian akan karir dakwahnya. Perlu di ingat pula masalah tarik menarik kader dakwah sering terjadi pada kader yang belum punya pendirian dan memiliki banyak peran di berbagai lembaga dakwah.

Kuota ideal jumlah kader dalam setiap lembaga dakwah

Menentukan kuota ideal kader dalam setiap lembaga, dimana kuota ideal ini adalah angka dimana sebuah lembaga dakwah bisa berjalan dengan baik dengan kerja keras kader yang ada. Sebutlah pada lingkup departemen, dimana sebuah departemen kaderisasi LDK hanya membutuhkan 6 ikhwan dan 4 akhwat sebagai staff departemen. Jumlah ini bisa dkatakan ideal karena tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Dengan adanya kuota dalam sebuah departemen atau lembaga dakwah, kita juga bisa memprioritaskan kader ke tempat-tempat tergantung kuotanya. Disini juga dilatih efesiensi kader yang berdakwah, seringkali sebuah lembaga terlalu bernafsu untuk memiliki banyak kader akan tetapi jika ternyata tidak efesien dan terlalu banyak yang menggangur , maka lebih baik di berikan ke lembaga lain.

Membiasakan untuk memberikan tanggung jawab kepada kader yang masih “baru”

Hal ini bisa dikatakan masih langka dan sulit dilakukan, kita masih lebih senang dan terbantu dengan kader yang sudah matang secara pemahaman dan pengalaman, sehingga kita tak perlu memoles terlalu banyak dan kader sudah siap bergerak. Kesalahan fatal dalam hal ini adalah, tidak adanya kesempatan yang diberikan kepada kader yang masih pemula, sehingga ia juga tak kunjungan paham dan berpengalaman. Oleh karena itu, ada baiknya, kita mulai terbiasa kerja keras untuk membina, dan mendidik setiap kader kita dan memberikan ia kesempatan untuk beramal sehingga ia dapat menjadi kader yang produktif.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s