PENCELUPAN SERAT POLIESTER – KAPAS

DENGAN ZAT WARNA DISPERSI – DIREK

 

  1. I.                   MAKSUD DAN TUJUAN.

I.1. Maksud    : Mencelup kain poliester – kapas dengan zat warna dispersi – direk.

I.2. Tujuan     : Mengetahui resep optimal dan perbandingan variasi pada metode pencelupan serat poliester – kapas dengan zat warna dispersi – direk.

 

  1. II.                TEORI DASAR.

II.1. Serat poliester.

Serat poliester merupakan suatu polimer yang mengandung gugus ester dan memiliki keteraturan struktur rantai yang menyebabkan rantai-rantai mampu saling berdekatan,sehingga gaya antar rantai polimer poliester dapat bekerja membentuk struktur yang teratur.

Poliester merupakan serat sintetik yang bersifat hidrofob karena terjadi ikatan hidrogen antara gugus – OH dan gugus – COOH  dalam molekul tersebut. Oleh karena itu serat polierter sulit didekati air atau zat warna.Serat ini dibuat dari asam tereftalat dan etilena glikol.

Untuk dapat mendekatkan air terhadap serat yang hidrofob,maka kekuatan  ikatan hidrogen dalam serat perlu dikurangi.Kenaikan suhu dapat memperbesar fibrasi molekul,akibatnya ikatan hidrogen dalam serat akan lemah dan air dapat mendekati serat.Disamping sifat hidrofob,faktor lain yang menyulitkan  pencelupan ialah kerapatan serat poliester yang tinggi sekali sehingga sulit untuk dimasuki oleh molekul zat warna.Derajat kerapatan ini alan berkurang dengan adanya kenaikan suhu karena fibrasinya bertambah dan akibatnya ruang antar molekul makin besar pula.Molekul zat warna akan masuk dalam ruang antar molekul.

II.1.1. Sifat poliester

II.1.1.1 Sifat fisika

1. Elektrostatik

Serat poliester sangat menimbulkan elektrstatik selama proses.Selain itu kain poliester bila bersentuhan dengan kulit akan menyebabkan timbulnya listrik statis.Oleh karena itu perlu ditambahkan sifat anti statik pada serat poliester

2.Berat jenis

Serat poliester memiliki berat jenis 1,38 g/cm3.

3.Morfologi

Serat poliester berbentuk silinder dengan penampang melintang bulat.

4.Kandungan air

Serat sintetik pada umumnya memiliki kandungan air yang rendah yaitu antara 0-3 % .Serat poliester sendiri memiliki kandungan air 0,4 %

5.Derajat kristalinitas

Derajat kristalinitas adalah faktor penting untuk serat poliester,karena derajat kristalinitas serat sangat berpengaruh pada serap zat warna ,mulur, kekeuatan tarik,stabilitas dimensi, serta sifat-sifat lainya.

6.Pengaruh panas

Serat poliester tahanh terhadap panas sampaipada suhu 220 C, diatas suhu ini akanmwemepengaruhi kekuatan, mulur, dan warnanya menjadi kekuningan. Suhu 230-240 C menyebabkan poliester melunak, suhu 260 C menyebabkan poliester meleleh.

7.Sifat Elastis

Polioeater memiliki sifat elastisitas yang baik dan ketahanan kusut yang baik.

 

II.1.2. Sifat Kimia

Poliester tahan asam lemah meskipun pada suhu mendidih, dan tahan asam kuat dingin. Polieater tahan basa lemah tapi kurang tahan basa kuat. Poliester tahan zat oksidator, alkohol, keton, sabun, dan zat-zat untuk pencucian kering. Polieater larut dalam metakresol panas, asam trifouro asetat-orto-cloro fonol.

 

II.2.Serat kapas

Serat kapas merupakan serat alam dengan komposisi sebagai berikut:

1. Selulosa

Selulosa merupakan polimer linier yang tersusun dari kondensasi molekul-molekul glukosa.

Derajat polimerisasinya sekitar 10.000 dengan berat molekul 1.580.000. Selulosa mengandung  gugus hidroksil yaitu 1 gugus promer dan 2 gugus sekunder. Selulosa terdapat pada dinding primer dan dinding sekunder.

 

 

2. Pektin

Pektin adalah karbohidrat dengan berat molekul tinggi dan mempunyai struktur molekul seperti selulosa. Terutama terdiri dari susunan linier asam d-galakturonat dalam garam-garam kalsium dan besi yang tidak larut. Selulosa pecah menjadi glukosa, tetapi pektin terurai menjadi galaktosa, pentosa, asam poligalakturonat, dan metil alkohol.

3. Zat-zat yang mengandung protein

Diperkirakan bahwa zat-zat ini merupakan sisa-sisa protoplasma yang tertinggal di dalam lumen setelah selnya mati ketika buah membuka.

4. Lilin

Lilin merupakan lapisan pelindung yang tahan air pada serat-serat kapas mentah. Lilin seluruhnya meleleh pada dinding primer.

5. Abu

Abu timbul kemungkinan karena adanya bagian-bagian daun, kulit buah, dan kotoran-kotoran yang menempel pada serat. Abu tersebut mengandung magnesium, kalsium, atau kalium karbonat, fosfat, atau klorida, dan garam-garam karbonat yang merupakan bagian terbesar.

Serat kapas mempunyai karakter-karakter sebagai berikut :

1. Dalam hal morfologi serat

  1. Penampang membujur

Bentuk membujur serat kapas adalah pipih seperti pita terpilin. Terdiri dari bagian-bagian :

Dasar

Berbentuk kerucut yang selama masa pertumbuhan serat , tertanam di antara sel-sel epidermis.

Badan

Merupakan bagian utama serat kapas yang mempunyai diameter sama, berdinding tebal, dan mempunyai lumen.

Ujung

Ujung serat merupakan bagian yang lurus dan mengecil, dengan sedikit konvolusi dan juga memiliki lumen.

 

  1. Penampang melintang

Kutikula

Kutikula merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin, dan protein, yang tahan air, dan melindungi bagian dalam serat.

Dinding primer

Merupakan dinding sela yang asli yang mengandung selulosa, pektin, protein, dan zat yang mengandung lilin. Selulosa ini berbentuk benang-benang yang sangat halus ataau fibril yang susunannya membentuk spiral dengan sudut 65-70o mengelilingi sumbu serat.

Lapisan antara

Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit berbeda dengan dinding primer maupun sekunder.

Dinding sekunder

Merupakan lapisan-lapisan selulosa yaitu fibril-fibril yang membentuk spiral dengan sudut 20-30o mengelilingi sumbu serat.

Lumen

Merupakan ruang kosong di dalam serat yang bentuk dan ukurannya berbeda untuk tiap serat. Lumen berisi zat-zat pada sisa protoplasma yang sudah kering dengan komposisi terbesarnya adalah nitrogen.

 

2. Dalam hal dimensi serat

  1. Panjang

Perbandingan panjang dan diameter serat kapas pada umumnya bervariasi dari 1000:1 sampai 5000:1

  1. Diameter

Diameter asli serat kapas yang masih hidup relatif konstan. Tetapi tebal dinding sel sangat bervariasi dan hal ini menimbulkan variasi yang besar dalam hal ukuran dan bentuk karakteristik irisan melintang.

3. Dalam hal kedewasaan serat

Kedewasaan serat dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding sel. Semakin dewasa serat, dinding selnya semakin tebal. Serat dianggap dewasa bila tebal dinding lebih besar dari pada lumennya.

II.2.1. Sifat fisika

a. Warna

Warna serat kapas tidak betul-betul putih. Biasanya sedikit berwarna krem. Pengaruh cuaca yang lama, debu, dan kotoran dapat menyebabkan warna keabu-abuan. Sedangkan jamur dapt mengakibatkan warna puih kebiru-biruan yang tidak hilang dalam pemutihan.

b. Kekuatan

Kekuatan serat per bundelnya adalah 70.000 sampai 96.700 pon per inci persegi. Dalam keadaan basah, kekuatannya akan bertambah.

c. Mulur

Mulurnya sekitar 4-13% dengan rata-rata 7%.

d. Keliatan ( toughness )

Keliatan adalah  ukuran yang menunjukkan kemampuan suatu benda untuk menerima kerja.

e. Kekakuan ( stiffness )

Kekakuan adalah daya tahan terhadap perubahan bentuk atau perbandingan kekuatan saat putus dengan mulur saat putus.

f. Moiture Regain

MR serat kapas pada kondisi standar adalah 7-8,5%.

g. Berat jenis

Berat jenis serat kapas berkisar 1,50-1,56.

h. Indeks bias

Indeks bias serat kapas yang sejajar sumbu serat 1,58. Sedangkan yang tegak lurus adalah 1,53.

II.2.2. Sifat kimia

Sifat-sifat kimia serat kapas merupakan sifat-sifat kimia selulosa, yaitu :

a. Tahan kondisi penyimpanan, pengolahan, dan pemakaian normal.

b. Rusak oleh oksidator dan penghirolisa.

c. Rusak cepat oleh asam kuat pekat dan rusak perlahan oleh asam encer.

d. Sedikit terpengaruh oleh alkali, kecuali larutan alkali kuat yang menyebabkan penggelembungan serat.

e. Larut dalam kuproamonium hidroksida dan kuprietilen diamin.

f. Mudah terserang jamur dan bakteri dalam keadaan lembab dan hangat.

 

II.3. Zat warna Direk

Zat warna direk adalah zat warna yang dapat mencelup serat secara langsung dengan tidak memerlukan suatu senyawa mordan. Zat warna direk termasuk zat warna yang langsung memberikan warna terhadap serat, zat warna yang selalu memerlukan elektrolit, zat warna yang memiliki gugus azo sebagai kromofornya, serta zat warna yang memiliki substantivitas tinggi.

Zat warna direk termasuk zat warna yang larut dalam air, yang terikat dengan serat dengan ikatan Van Der Waals (ikatan yang paling lemah), sehingga mudah luntur dan untuk mengatasinya perlu diperkuat dengan pengerjaan iring.

Zat warna direk memiliki 3 golongan, yaitu :

  • Golongan self leveling            : golongan zat warna ini dapat mudah rata dengan sendirinya dan memiliki kemampuan migrasi yang tinggi.
  • Golongan salt controllable      : golongan zat warna ini sensitive terhadap elektrolit dan kemampuan migrasinya ditentukan oleh elektorlit yang ditambahkan pada proses pencelupan.
  • Golongan temperature controllable :golongan zat warna ini sensitive terhadap panas/suhu dan kemampuan migrasinya ditentukan oleh suhu yang dipergunakan pada saat proses pencelupan.

Faktor-faktor yang berpengaruh pada pencelupan dengan zat warna direk adalah sebagai berikut :

  • Elektrolit

Penambahan elektolit ke larutan celup zat warna direk untuk memperbesar jumlah zat warna yng terserap oleh serat, meskipun beraneka zat warna akan memiliki kepekaan yang berbeda. Elektrolit yang ditambahkan berfungsi untuk megurangi atau menghilangkan muatan negatif sehingga pada jarak yang cukup dekat molekul-molekul zat warna akan tertarik karena gaya Van Der Waals.

  • Suhu

Pada umumnya peristiwa pencelupan adalah eksotermis, maka dalam keadaan setimbang penyerapan zat warna pada suhu tinggi akan lebih sedikit apabila dibandingkan penyerapan pada suhu rendah. Akan tetapi pada umumnya dalam pencelupan perlu pemanasan untuk mempercepat reaksi. Peristiwa tersebut akan menyebabkan perubahan ketuaan warna bila pencelupan dilakukan pada suhu mendidih.

 

  • Perbandingan Larutan

Perbandingan larutan adalah perbandingan antara besarnya larutan terhadap berat bahan tekstil yang diproses, kenaikan konsentrasi zat warna dalam larutan akan menambah besarnya penyerapan.

  • Pengaruh pH

Zat warna biasa digunakan dalam larutan netral. Penambahan alkali mempunyai pengaruh menghambat penyerapan. Soda abu biasanya ditambahkan untuk mengurangi kesadahan dalam air yang dipakai untuk memperbaiki kelarutan zat warna.

 

II.4.Zat Warna Dispersi

Zat warna dispersi adalah zat warna yang dibuat secara sinteteik. Kelarutannya dalam air kecil sekali dan larutan yang terjadi merupakan larutan dispersi artinya partikel-partikel zat warna hanya melayang dalam air. Zat warna dirpersi merupakan senyawa aromatik yang mengandung gugus-gugus hidroksi atau amina yang berfungsi sebagai donor atom hidrogen untuk mengadakan ikatan dengan gugus karbonil dalam serat

Zat warna ini dipakai untuk mewarnai serat-serat tekstil sintetik yang bersifat termoplastik atau hidrofob. Absorbsi dalam serat “solid solution” yaitu zat padat larut dalam zat padat. Dalam hal ini zat warna merupakan zat terlarut dan serat merupakan zat pelarut. Kejenuhannya dalam serat berkisar antara 30-200 mg per gram serat.

 

II.4.1. Klasifikasi Zat Warna Dispersi

Zat warna dispersi diklasifikasikan menjadi empat berdasarkan molekul dan ketahanan sublimasi :

  1. Tipe A

Ukuran molekulnya kecil, menyublimasi sekitar suhu 130 C, pada umumnya dicelup pada metode carier dan HT/HP.

2. Tipe B

Ukuran molekul sedang, menyublim pada suhu 100 C, pada umumnya dicelup dengan metode carier dan HT/HP.

3. Tipe C

Ukuran molekulnya besar, menyublim pada suhu 190 C, dicelup dengan metode tranfer printing dan HT/HP.

4. Tipe D

Ukuran molekulnya sangat besar sekali, menyublim pada suhu 230 C, dicelup dengan cara termosol.

II.5. Pencelupan One Bath One Stage

Pada metode ini larutan yang digunakan adalah larutan tunggal, dan pencelupannya satu tahap. Pada pencelupan ini kedua zat warna dicampurkan dan fiksasi dilakukan secara bersamaan. Metoda ini dapat digunakan apabila zat warna yang digunakan memiliki mekanisme pencelupan yang sama. Pada percobaan ini zat warna yang digunakan adalah disperse dan direk, dengan penambahan asam dapat dilakukan diawal maupun dipertengahan proses karena agar larutan bersifat alkali terlebih dahulu agar zw dispersi dapat menyerap maksimal. Metoda ini dapat menghemat waktu, energi dan biaya.

Yang harus diperhatikan dalam percobaan ini adalah suhu pencelupan. Zat warna disperse memerlukan suhu +100oC agar dapat terfiksasi ke dalam serat, sedangkan zat warna direk memerlukan suhu 100oC sehingga zat warna direk yang digunakan adalah zat warna yang tahan suhu tinggi, sehingga pencelupan dapat dilakukan dalam suhu tinggi.

 

  1. III.             ALAT DAN BAHAN

III.1. Alat-alat:

  1. Mesin HT-HP
  2. Neraca
  3. Gelas Porselen
  4. Pipet Volume
  5. Pembakar Bunsen
  6. Gelas ukur

III.2. Bahan

  1. Kain campuran poliester – kapas
  2. Zat warna dispersi
  3. Zat warna direk
  4. Amonium sulfat
  5. Zat pendispersi
  6. Elektrolit
  7. Asam Asetat
  8. Na2S2O4
  9. NaOH
    1. Natrrium Karbonat

 

 

IV. RESEP DAN FUNGSI ZAT

IV.1. Resep Pencelupan

Resep

1

2

3

4

Zw dispersi (%)

1

1

1

1

Zw direk (%)

1

1

1

1

Carrier (ml/l)

0.5

0.5

0.5

0.5

Elektrolit (g/l)  pH 5 pH 5 pH 5 pH 5
As.Asetat (cc/l)

1

1

1

1

Na2CO3 (ml/l)

2

2

2

2

Pembasah (ml/l)

1

1

1

1

Suhu ( 0C)

100

100

100

100

Waktu (jam)

30

30

30

30

Vlot (1 : x)

1 : 20

1 : 20

1 : 20

1 : 20

 

IV.2. Resep Penyabunan

Na2CO  (g/l)

2

Teepol (ml/l)

2

Suhu (oC)

60

Waktu (menit)

15

vlot

1:20

 

IV.4.Fungsi Zat

☼     Zat warna direk : Memberikan warna pada bahan selulosa yang dicelup.

☼     CH3COOH : Membuat suasana larutan proses after treatment menjadi asam dan memperlancar kelarutan kalium bikromat/zat kation aktif.  Memberi suasana asam dan mengatur pH larutan celup

☼     Zat warna dispersi : Memberi warna pada polyester secara merata dan permanen

☼     Zat Pendispersi : Mendispersikan zat warna sehingga tersebar merata dalam larutan celup dan mempercepat pembasahan dengan cara menurunkan tegangan permukaan.

☼     Carrier : zat pengemban untuk membawa zat warna masuk ke dalam serat

☼     Fixing agent : membuat molekul zw menjadi lebih besar, agar tahan cuci lebih baik

☼     Teepol : Sabun berfungsi untuk menghilangkansisa zat warna yang menenpel pada permukaan kain.

☼     Natrium Karbonat  : Membantu kelarutan detergen dan memberikan suasana alkali pada proses pencucian.

☼     NaCl : mendorong penyerapan zat warna

 

  1. V.                CARA KERJA
    1. Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan
    2. Buat larutan zat warna dan siapkan larutan pencelupan beserta zatnya
    3. Lakukan pencelupan dengan metode one bath one stage
    4. Fiksasi kain celup dan lakukan R/C atau fixing agent
    5. Cuci kain yang telah di fiksasi dengan air mengalir
    6. Keringkan
    7. Evaluasi bahan terhadap tahan luntur warna, cuci dan gosok ; ketuaan warna dan kerataan warna

 

  1. VI.             DIAGRAM ALIR PROSES

Persiapan alat dan bahan        pelarutan zat warna         pencelupon One Bath One Stage        Fiksasi            Iring         Reduction Clearing            Cuci           Bilas.

VIII.       DATA PERCOBAAN ( PERHITUNGAN )

Resep

1

2

3

4

Berat bahan (gram)

5.65

5.51

5.34

5.46

Vlot (ml)

113

110.2

106.8

109.2

Zw dispersi (%)

3.67

3.58

3.47

3.55

Zw direk (%)

1.97

1.93

1.87

1.91

Carrier (ml/l)

0.056

0.055

0.053

0.055

Elektrolit (g/l)

1.695

1.653

1.602

1.638

As.Asetat (cc/l)

pH 5

pH 5

pH 5

pH 5

Na2CO3 (ml/l)

0.2260

0.2204

0.2136

0.2184

Pembasah (ml/l)

0.113

0.1102

0.1068

0.1092

Suhu ( 0C)

100

100

100

100

Waktu (menit)

30

30

30

30

 

Resep Cuci

1

2

3

4

NaOH  (g/l)

0.1102

0.1068

0.1092

 Na2S2O4 (ml/l)

0.2204

0.2136

0.2184

Fixing agent (ml/l)

0.226

0.2204

0.2136

CH3COOH (ml/l)

0.113

0.1102

0.1068

Suhu (oC)

60

60

60

60

Waktu (menit)

10

10

10

10

Vlot (ml)

113

110.2

106.8

109.2

 

 

  1. IX.             CONTOH SAMPEL

Resep 1

Resep 2

Resep 3

Rerep 4

 

–          Evaluasi tahan luntur warna terhadap gosokan (kering dan basah)

 

Resep 1

Resep 2

Resep 3

Rerep 4

 

X.                DISKUSI

Praktikum disperse direk metoda 1 bath 1 stage menggunakan efek warna tone ini tone color dyeing yaitu konsentrasi zat warna yang digunakan adalah sama yaitu berwarna biru. Variasi yang digunakan adalah dari fiksasi disperse dan direknya. Pada kain 1 hanya dilakukan fixing saja, pada kain 2, hanya dilakukan R/C sebelum fixing, pada kain ke 3 menggunakan R/C sesudah fixing sedangkan pada kain 4 hanya dilakukan R/C saja.

  1. Fungsi R/C adalah untuk menghilangkan zat warna disperse yang berada di permukaan kain yang tidak terfiksasi sedangkan fixing agent digunakan pada prose iring zat warna direk, digunakan untuk memperbesar struktur molekul zat warna direk sehingga tahan luntur nya lebih baik. Prinsip pengerjaannya adalah dengan memperbesar ukuran zat warna yang sudah terfiksasi sehingga zat warna sukar untuk keluar. Zat warna direk adalah zat warna yang memiliki subsantivitas yang baik. Sehingga kelarutannya sangat baik. Tetapi di sisi lain substantivitas tinggi tidak diharapkan karena dapat mengurangi ketahanan luntur.
  2. Pada pencelupan ini dilakukan dengan metode carrier sehingga suhu yang digunakan 1000C supaya tidak merusak zat warna direk yang tidak tahan suhu tinggi dan disperse pun dapat tercelup dengan suhu tersebut. Oleh karena itu suhu termasuk salah satu hal yang mempengaruhi keberhasilan pencelupan karena jika kita menggunakan metode suhu tinggi akan merusak direk. Pada pencelupan disperse direk ini lebih baik menggunakan metode two bath two stage karena pencelupan dilakukan masing-masing sehingga tidak mempengaruhi satu sama lain namun dengan metode carrier ini cukup baik dari segi kerataan dan tidak merusak zw direk.
  3. Pada praktikum ini penambahan asam dilakukan di awal proses. Namun sebaiknya dilakukan bertahap supaya pada awal proses larutan bersifat alkali agar zw direk dapat masuk terlebih dahulu ke dalam serat setelah 10 menit kenaikan suhu maka dimasukkan asam untuk mencelup disperse. Ketika asam dimasukkan di awal proses maka larutan akan bersifat sedikit asam bahkan netral yang mengakibatkan pencelupan tidak maksimal.
  4. Penambahan elektrolit dilakukan untuk membantu pencelupan zw direk sehingga penambahannya sesuai resep perhitungan dan jangan berlebihan karena akan menyebabkan ketidaksesuaian hasil celup.
  5. Dari segi ketuaan warna terlihat kain 1 lebih tua karena dilakukan fixing yang memperbesar molekul zw sehingga ketuaan nya terlihat besar dan tidak dilakukan R/C sehingga zw disperse yang tidak terfiksasi masih menempel pada bahan. Pada kain 4 warna yang terlihat muda karena dilakukan proses R/C namun tidak dilakukan proses fixing. Warna yang terlihat karena efek R/C yang sudah mereduksi zw yang menempel dan tidak terfiksasi kedalam serat dan tidak dilakukan proses fixing sehingga ukuran molekul zw direk tidak besar maka warna yang terlihat muda. Sedangkan pada kain 2 dan 3 ketuaan warna hampir sama. Pada kain 2 dilakuk R/C sebelum fixing sedangkan pada kain 4 dilakukan R/C setelah fixing dan tidak terlalu terlihat perbedaannya dari segi ketuaan warna. Pada intinya kedua kain sama-sama di R/C dan di fixing namun berbeda dilakukannya.
  6. Dari segi kerataan warna, pada semua kain terlihat rata dan tidak ada yang belang. Karena dengan dilakukannya tone in tone maka warna yang dihasilkan satu warna yaitu konsentrasi sama. Kerataan warna sudah baik karena salah satu factor yaitu suhu. Suhu yang dilakukan tidak terlalu tinggi maka tidak ada kerusakan pada direk yang menyebabkan belang kain.
  7. Dari efek ketahanan luntur terhadap gosok

 

XI.             KESIMPULAN

Dari hasil prakikum maka dapat disimpulkan :

  1. Pada pencelupan one bath one stage harus memperhatikan suhu, penambahan asam dan elektrolit yang tepat agar hasil sesuai. Suhu yang digunakan dengan metode carrier 1000C dan penambahan asam dilakukan bertahap.
  2. R/C adalah untuk menghilangkan zat warna disperse yang berada di permukaan kain yang tidak terfiksasi
  3. Fixing agent digunakan pada prose iring zat warna direk, digunakan untuk memperbesar struktur molekul zat warna direk sehingga tahan luntur nya lebih baik. Variasi yang digunakan akan mengakibatkan ketuaan warna dan tahan luntur warna yang berbeda.

 

XII.      DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Djufri Rasyid dkk, Teknologi Pengelantangan Pencelupan dan Pencapan, Institut Teknologi Tekstil Bandung 1976.
  2. Soepriyono dkk, Serat-serat Tekstil, Institut Teknologi Tekstil Bandung, 1974.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s