Batik

BATIK

 

  1. Maksud dan tujuan

Maksud

Melakukan proses pembatikan

Tujuan

Melakukan proses pembatikan pada kain kapas 100% dengan menggunakan zat warna reaktif

 

  1. Teori dasar

KAPAS

Struktur Fisik Serat Kapas

Bentuk dan ukuran penampang melintang serat kapas dipengaruhi oleh tingkat kedewasaan serat yang dapat dilihat dari tebal tipisnya dinding sel. Serat makin dewasa dinding selnya makin tebal. Untuk menyatakan kedewasaan serat dapat dipergunakan perbandingan antara tebal dinding dengan diameter serat. Serat dianggap dewasa apabila tebal dinding lebih dari lumennya.

Pada satu biji kapas banyak sekali serat, yang saat tumbuhnya tidak bersamaan sehingga menghasilkan tebal dinding yang tidak sama. Seperlima dari jumlah serat kapas normal adalah serat yang belum dewasa. Serat yang belum dewasa adalah serat yang pertumbuhannya terhenti karena suatu sebab,misalnya kondisi pertumbuhan yang jelek, letak buah pada tanaman kapas dimana bnuah yang paling atas tumbuh paling akhir, kerusakan karena serangga dan udara dingin, buah yang tidak dapat membuka dan lain-lain. Serat yang belum dewasa kekuatannya rendah dan apabila jumlahnya terlalu banyak, dalam pengolahan akan menimbulkan limbah yang besar.

            

     Gambar I   PENAMPANG MEMBUJUR (KIRI) DAN

     MELINTANG (KANAN) SERAT KAPAS

   Sumber : W. V. Bergen and W. Krauser , “Textile Fiber Atlas” p. 32, 1994

 

Struktur Kimia Serat Kapas

Apapun sumbernya derivat selulosa secara prinsif memiliki struktur kimia yang sama. Hal ini bisa terlihat pada analisa hidrolisis, asetolisis dan metilasi yang menunjukan bahwa selulosa pada dasarnya mengandung residu anhidroglukosa. Subsequent tersebut menyesun molekul glukosa(monosakarida) dalam bentuk β-glukopironase dan berikatan bersama-sama yang dihubungkan pada posisi 1 dan 4 atom karbon molekulnya. Formula unit pengulanganya menyerupai selobiosa (disakarida) yang kemudian membentuk selulosa (polisakarida).

 

Gambar II. STRUKTUR KIMIA (a) SELOBIOSA, (b) SELULOSA

Sumber: Gascoigne & Gascoigne, Biological Degradation of Cellulose “The Chemistry and Physics of Cellulose”, p. 3. 1960 )

Sifat Fisika Serat Kapas

Warna

Warna serat kapas secara umum adalah putih cream, tetapi sesungguhnya terdapat bermacam-macam warna putih. Pengaruh mikroorganisme menyebabkan warna kapas menjadi suram. Dalam kondisi cuaca yang jelek , warna kap[as menjadi sangat gelap abu-abu kebiruan. Kapas yang pertumbuhannya terhenti akan berwarna kekuningan. Warna kapas merupakan salah satu factor penentu grade.

Kekuatan

Kekuatan serat kapas terutama dipengaruh oleh kadar selulosa dalam serat, panjang rantai dan orientasinya. Kekutan serat kapas perbundel rata- rata adalah 96.700 pound per inci2 dengan minimum 70.000 dan maksimum 116.000 pound per inci2. Kekuatan serat bukan kapas pada umumnya menurundalam keadaan basah, tetapi sebaliknya kekuatan serat kapas dalam keadaan basah makin tinggi.

Mulur

Mulur saat putus serat kapas termasuk tinggi diantara serat-serat selulosa alam, kira-kira dua kali mulur rami. Diantara serat alam hanya sutera dan wol yang mempunyai mulur lebih tinggi dari kapas. Mulur serat kapas berkisar 4 – 13 % bergantung pada jenisnya dengan mulur rata-rata 7 %.

Moisture Regain

Serat kapas mempunyai afinitas yang besar terhadap air, dan air mempunyai pengaruh yang nyata pada sifat-sifat serat. Serat kapas yang sangat kering bersifat kasar, rapuh dan kekuatannya rendah. Moisture regain serat kapas bervariasi dengan perubahan kelembaban relatif atmosfir sekelilingnya. Moiture regain serat kapas pada kondisi standar berkisar antara 7 – 8,5 %

Sifat Kimia Serat Kapas

Serat kapas sebagian besar tersusun atas selulosa maka sifat-sifat kimia kapas sama dengan sifat kimia selulosa. Serat kapas umumnya tahan terhadap kondisi penyimpanan, pengolahan dan pemakaian yang normal, tetapi beberapa zat pengoksidasi dan penghidrolisa menyebabkan kerusakan dengan akibat penurunan kekuatan

Kerusakan karena oksidasi dengan terbentuknya oksiselulosa biasanya terjadi dalam proses pemutihan yang berlebihan, penyinaran dalam keadaan lembab atau pemanasan yang lama suhu diatas 140oC.

ZAT WARNA REAKTIF

Zat warna reaktif adalah zat warna yang dapat berikatan dengan serat selulosa secara kovalen. Oleh karenanya mempunyai ketahanan luntur yang sangat baik.

Zat warna ini terdiri dari dua jenis yaitu reaktif panas dan reaktif dingin. Reaktif dingin mempunyai gugus reaktif yang lebih banyak sehingga kurang memerlukan suhu tinggi (jenis triklorotriazin) sedang reaktif panas memerlukan suhu tinggi dalam penggunaannya. Keunggulan zat warna reaktif dalam pemakaiannya adalah warna yang dihasilkannya sangat cerah dan mudah sekali penggunaannya.

Fiksasinya dapat dilakukan dengan beberapa cara ditinjau dari segi ekonomi, diantara cara-cara tersebut yang paling menguntungkan adalah cara fiksasi tunggal, yaitu fiksasi yangdilakukan bersamaan antara alkali dan zat warnanya. Proses fiksasi zat warna iniberlangsung dengan bantuan alkali, selain itu faktor penting yang harus diperhatikan dalam penggunaan zat warna reaktifadalah kestabilan pasta capnya dan kemungkinan terjadinya penodaan warnadasar saat pencucian sehingga dipilih medium pengental yang tahan terhadap alkali dan tidak melakukan reaksi dengan zat warna reaktif yakni alginate atau emulsi yang terbuat dari agar-agar rumput laut yang dalam perdagangan dikenal dengan nama manutex. Pengental sintetik dari jenis asam poliakrilatdapat digunakan sebagai pengganti natrium alginat serta dapat memberikanhasil pewarnaan yang lebih memuaskan dan lebih mudah dihilangkan.

Pemilihan jenis alkali berdasarkan pada kereaktifan zat warna yang digunakanserta kestabilan pasta capnya adalah natrium bikarbonat selain harganyamurah juga memberikankestabilan pasta cap yang tinggi. Penambahan alkalipada pasta cap sebaiknya dilakukan pada saat pasta cap digunakan untukmenghindari hidrolisa zat warna. Jika digunakan zat warna reaktif yangmempunyai kestabilan yang cukup tinggi dapat digunakan natrium karbonatatau soda kostik karena akan memberikan hasil pewarnaan yang lebih tinggi. Untuk mencegah terjadinya reduksi yang dapat menurunkan warna dipakai resist salt atau zat anti reduksi.

 

BATIK

Batik merupakan sejenis tenunan dengan warna – warna yang berbeda. Bahan atau material yang dipakai antara lain adalah katun, sutra, campuran lilin dan damar plus cat.

Batik sebagai bahan sandang nasional, proses produksinya masih perlu ditingkatkan efisiensi produknya terutama Batik Tulis, karena proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama. Di samping Batik Tulis terdapat juga Batik Cap.

Pada proses pembuatan pola batik secara pencapan tidak dilakukan seperti halnya proses pencapan biasa, yaitu tidak mengalami proses pembangkitan (fiksasi), pencucian dan penambahan zat pembantu pada pasta cap. Hal ini disebabkan tidak diinginkan terjadinya reaksi antar zat warna dengan serat, agar zat warna hanya menempel sementara pada permukaan kain. Tetapi meskipun demikian diharapkan hasil pencapan mempunyai tahan luntur warna terhadap gosok dan sinar yang cukup baik.

Adapun urutan pembuatan pola batik secara pencapan adalah sebagai berikut :

  1. Pembuatan motif pada screen.

Motif batik dibuat klise yaitu digambar pada kertas kodaktrase atau kertas kalkir dengan tinta bak, kemudian diafdruk/dipindah ke screen. Obat yang digunakan untuk afdruk dapat dengan chroom gelatin, Ulano, dan sebagainya.

  1. Pembuatan pasta cap.

Pasta cap terdiri dari zat warna, pengental dan air tanpa zat pembantu. Zat warna dilarutkan dengan sedikit air dingin, pengental dicampurkan pada pasta zat warna kemudian diaduk sampai rata sambil ditambah air.

  1. Pencapan pada bahan.

Pencapan pasta cap pada bahan dilakukan secara manual (hand screen printing).

  1. Pengeringan.

Pengeringan dilakukan di ruangan yang teduh selama sekitar 30 menit, kemudian baru dapat dibatik.

Pada proses pembatikan digunakan suatu alat yang disebut canting. Canting adalah sebuah alat kecil dari tembaga yang diisi lilin, dipergunakan untuk memberi gambaran pada bahan batik.

Macam – macam canting tersebut adalah sebagai berikut :

Ä    Canting “isen – isen” mempunyai tempat menuangkan cairan lilin yang sangat tipis dan dipakai untuk membuat garis – garis seindah mungkin dan titik – titik yang kecil.

Ä    Canting “kyandangen”. Alat ini mempunyai tempat untuk menuangkan lilin yang telah memutih pada saat pemrosesan pertama.

Ä    Canting “penanggang” biasanya untuk melumurkan lilin pada permukaan kain yang lebar.

Ä    Canting “penembok” mempunyai cerat yang sangat lebar untuk menutupi bagian – bagian kain yang terlindung oleh lilin.

Ä    Canting “pengada” mempunyai dua buah cerat untuk menggambarkan garis – garis yang paralel (sejajar).

 

  1. Alat dan bahan

BAHAN

  • Kain Kapas
  • Zat Warna Naftol
  • TRO/Spirtus
  • NaoH 38­oBe
  • Garam Diazonium
  • CH3COOH
  • CMC 7 %
  • Air
  • Malam

 

ALAT

  • Canting
  • Kompor minyak dan wajan kecil
  • Panic besar
  • Kuas kecil
  • Gelas

 

  1. Fungsi Zat

Malam                   : Untuk merintangi zat warna

CMC 7 %              : sebagai pengental untuk membantu melekatkan zat warna pada bahan

Na2CO3                 : sebagai zat pembantu fiksasi

Zat warna              : mewarnai bahan

NaCl                      : Membantu penyerapan zat warna reaktif

 

  1. Resep pencelupan

Pencelupan

Zat Warna Reaktif                        : 3%

Na2CO3                             : 10 g/l

NaCl                                  : 10 g/l

Vlot                                   : 1 : 20

Suhu                                  : Dingin

Waktu                               : 10’ – 15’

 

Pencoletan

Zat warna reaktif              : 2%

CMC 7 %                          : 700 g/l

Air                                     :     x g/l

 

Pelorodan

Vlot                       : 1 : 20

Na2CO3                 : 2 g/l

  1. Diagram alir
 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Perhitungan resep

Berat bahan                       :           224 x 60/100 = 134,4 gram

Vlot                                   :           20 x 134,4 = 2688 ml/gram

Zat warna                          :           3/100 x 134,4 = 4,032 gram

( yellow )                           :           4,032 – 0,5 =3,532 gram

( Reaktif blue M2R)          :           0,5 gram

Na2CO3                             :           10/1000 x 134,4 = 1,344 gram

NaCl                                  :           10/1000 x 134,4 = 1,344 gram

 

  1. Diskusi

Pencelupan batik dilakukan dalam suasana dingin oleh karena itu zat warna yang digunakan menggunakan zat warna yang pencelupannya dilakukan pada suhu dingin/ ruangan. Pada praktikum ini dilakukan pencelupan dengan zat warna reaktif. Adapun cirri-ciri dari batik yaitu :tembus motifnya ke bagian belakang, detail ragam hias batik asli sederhana, ada motif pecahan/ retakan yang tidak akan sama pada motif batik, menggunakan lilin batik sebagai pembentuk pola dan perintang warna.

      Pada proses pembuatan motif pada kain putih dilakukan dengan menggunakan pensil supaya tidak terlihat membekas pada kain. Motif disesuaikan dengan ciri-ciri batik yaitu sederhana dan terdapat titik-titik motif yang merupakan cirri dari motif asli. Kemudian ketika motif sudah beres, dilakukan proses pencantikan pada motif yang telah dibentuk. Pada proses ini harus diperhatikan suhu pada lilin batik. Usahakan jangan terlalu panas karena akan menyebabkan lilin encer dan meleber ketika akan menyanting motif dan jika dingin maka lilin tidak akan keluar oleh karena itu usahakan lilin tidak terlalu panas agar motif rapi dan sesuai motif yang diinginkan. Canting yang digunakan disesuaikan dengan motif yang diinginkan apabila garis tipis maka digunakan canting yang mempunyai lubang kecil. Kemudian dilakukan nerusi yaitu notif decanting pada bagian belakang bolak-balik (harus nembus pada bagian belakang kain). Pada proses ini dilakukan agar ciri dari batik asli tercapai. Ketika selesai pencantingan maka kita harus mengecek apakah lilin sudah nembus atau belum.

      Pewarnaan area motif dengan pencoletan dilakukan dengan memerhatikan zat warna dan kekentalan pasta kekentalan nya seperti air agar bias nimbus dan tidak terlalu kental. Proses nembok dilakukan agar menutupi bagian motif ketika akan dicelup. Dan jangan terlalu panas pada penggunaan lilin batiknya. Yang terakhir dilakukan proses pencelupn dan pelorodan kain batik.

 

Kerataan

Kerataan pada proses pencelupan dipengaruhi oleh waktu celup dan zat warna yang digunakan. Proses pencelupan disesuaikan dengan zat warna yang digunakan. Sedangkan kerataan motif dipengaruhi oleh proses nembok dengan lilin batik. Usahakan lilin merata dan menutupi semua bagian motif karena jika ada yang tidak tertutupi akan ikut tercelup dan membuat warna menjadi belang. Pada bagian ini dilakukan bolak-balik agar celupan batik asli didapatkan.

 

Ketajaman

Ketajaman motif dipengaruhi dari proses nembok atau penutupan motif dengan lilin karena apabila penutupan motif dengan malam kurang kuat, maka motif yang diperoleh akan mempunyai ketajaman motif yang rendah, warana kurang terserap pada bagian motif pada saat proses pencelupan. Pencantingan pun berpengaruh karena jika terlalu meleber maka motif akan tidak tepat juga. Pada pelodoran harus bersih dari lilin karena jika masih ada sisa lilin maka akan mempengaruhi warna dari warna zat warnanya.

 

  1. Kesimpulan

Dari data hasil percobaan, teori pendekatan dan pembahasan terhadap proses batik tulis pada kain kapas 100% dengan menggunakan zat warna Reaktif dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :

1. Pada pencoletan dan proses nembok, keadaan lilin mempengaruhi ketajaman motif

2. Penutupan motif harus rata, dilakukan bolak-balik dan lilin jangan terlalu meleber

3. Pencelupan dilakukan sesuai dengan zat warna yang digunakan dan pelorodan dilakukan dengan air mendidih dan sampai bersih dari lilin agar tidak mengubah warna dari celupan

 

  1. DAFTAR PUSTAKA

Arifin Lubis dkk, Teknologi Pencapan Tekstil, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Bandung, 1998

Catatan Pencapan I, Agus Suprapto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s