ZAT WARNA REAKTIF

  • Zat Warna Reaktif [5]

Zat warna reaktif dikenal sebagai zat warna yang dapat bereaksi secara kimia dengan serat selulosa dalam ikatan yang kuat (ikatan kovalen), sehingga zat warna ini merupkan bagian dari serat. Ikatan ini terbentuk dari reaksi antara gugus reaktif pada zat warna reaktif dengan gugus –OH, –SH, –NH2, dan –NH yang ada dalam serat. Oleh karena itu, hasil pencelupan zat warna reaktif mempunyai ketahanan cuci yang sangat baik.

2.2.1 Struktur Molekul Zat Warna Reaktif

Pada umumnya zat warna reaktif mempunyai struktur kimia yang terdiri atas gugus-gugus fungsional dengan fungsi tertentu, yaitu :

  • Gugus pelarut

Gugus pelarut menyebabkan zat warna reaktif dapat larut dalam air. Gugus pelarut ini umumnya ada pada bagian kromofor, yang berupa : Gugus sulfonat (–SO3H atau –SO3Na) atau gugus karboksilat (–COONa atau –COOH)

Adanya gugus pelarut yang terdapat pada zat warna reaktif tidak hanya berpengaruh pada kelarutan zat warna reaktif saja, tapi juga berpengaruh terhadap sifat-sifat yang lain, seperti substantifitas, kereaktifan dan kestabilan ikatan serat dan zat warna.

Gugus pelarut dapat berpengaruh terhadap substantifitas zat warna. Kesamaan sifat ion antara gugus hidroksil selulosa dengan gugus pelarut zat warna menyebabkan terjadinya reaksi tolak menolak, yang berakibat adsorbsi zat warna terhambat, sehingga substantifitas zat warna menurun.

Kereaktifan zat warna akan meningkat dengan semakin banyaknya gugus pelarut. Hal ini disebabkan karena gugus tersebut bersifat sebagai penarik elektron, sehingga berpengaruh terhadap kekuatan ikatan zat warna. Pengaruh gugus pelarut karboksilat terhadap kereaktifan relatif lebih kecil dibanding gugus pelarut sulfonat. Oleh karena itu, zat warna reaktif dengan gugus pelarut karboksilat pada umumnya mempunyai kestabilan terhadap hidrolisa yang lebih tinggi.

  • Kromofor

Kromofor merupakan gugus pembawa warna yang menentukan corak dan kecerahan warna. Kromofor juga berpengaruh terhadap substantifitas dan kooefisien difusi, kereaktifan, serta kelarutan zat warna. Jenis struktur komofor zat warna reaktif pada umumnya adalah jenis azo, antrakuinon, dan ftalosianin.

Peningkatan suhu celup dapat menurunkan substantifitas dan menaikkan kereaktifan zat warna reaktif. Oleh karena itu zat warna reaktif yang kereaktifannya tinggi pada umumnya mempunyai kromofor yang kecil (substantifitasnya kecil), sebaliknya zat warna yang kereaktifannya rendah umumnya mempunyai kromofor yang agak besar (substantifitasnya lebih besar).

  • Gugus penghubung

Gugus penghubung adalah gugus yang menghubungkan kromofor dengan gugus reaktif, misalnya gugus amina (–NH–), sulfoamina (–SO2NH), dan amida (–CONH–). Gugus penghubung ini berpengaruh juga terhadap kereaktifan zat warna reaktif karena bersifat sebagai penarik elektron (elektrofilik). Selain itu berpengaruh juga terhadap kestabilan hasil celup karena ikatan antara serat dengan zat warna dapat diputus pada bagian ini.

  • Gugus reaktilf

Gugus reaktif adalah gugus yang dapat bereaksi dengan serat. Gugus ini sangat besar pengaruhnya terjadap kereaktifan zat warna, karena mempunyai atom karbon bermuatan positif yang mencari tempat negatif (elektrofilik), yang akan bereaksi dengan gugus fungsi serat yang mempunyai sepasang elektron bebas (nukleofilik).

Gugus reaktif dapat berupa triazin, pirimidin, kinoaksalin, vinilsulfon, sulfoetilamida atau akrilamida. Pada gugus reaktif terdapat gugus yang mudah terlepas (gugus lepas). Pada zat warna reaktif, setelah melepaskan gugus lepasnya akan memiliki ion positif. Ion ini dapat bereaksi secara adisi atau substitusi dengan gugus negatif yang memiliki elektron bebas. Gugus lepas ini dapat berupa gugus flour, klor, brom, atau sulfat.

2.2.2 Penggolongan Zat Warna Reaktif [8]

Zat warna reaktif dapat dikelompokkan menjadi beberapa golongan, yaitu :

  • Berdasarkan reaksi

Berdasarkan reaksi yang terjadi, zat warna reaktif dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :

  • Golongan I (satu)

Yaitu zat warna reaktif yang dapat mengadakan reaksi adisi nukleofilik dengan serat selulosa dan membentuk ikatan eter dengan gugus vinil sulfon. Ikatan ini biasanya tahan terhadap kondisi asam, tetapi kurang tahan terhadap kondisi alkali. Salah satu zat warna reaktif yang mengadakan reaksi ini yaitu dari golongan vinil sulfon. Reaksi fiksasi yang terjadi antara zat warna dengan serat adalah sebagai berikut :

D-SO2-CH2-CH2-O-SO3Na + NaOH → D-SO2-CH=CH2 + Na2SO4 + H2O

D-SO2-CH=CH2 + Sel-OH → D-SO2-CH2-CH2-O-Sel

  • Golongan II (dua)

Yaitu zat warna reaktif yang dapat mengadakan reaksi substitusi nukleofilik dengan selulosa membentuk ikatan pseudo-ester. Ikatan ini biasanya tahan terhadap kondisi alkali, tetapi kurang tahan terhadap kondisi asam. Contoh zat warna reaktif yang mengadakan reaksi ini yaitu zat warna reaktif dengan gugus triazin.

  • Berdasarkan cara pemakaian

Berdasarkan cara pemakaiannya, zat warna reaktif digolongkan menjadi dua macam, yaitu :

  • Pemakaian cara dingin

Yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan tinggi, misalnya zat warna reaktif dengan sistem diklorotriazin. Suhu pencelupannya tidak lebih dari 40OC karena pada suhu yang lebih tinggi zat warna tersebut akan mudah terhidrolisa.

  • Pemakaian cara panas

Yaitu zat warna reaktif yang mempunyai kereaktifan rendah, sehingga perlu menggunakan suhu yang tinggi pada proses pencelupannya. Contoh zat warna ini yaitu zat warna dengan gugus reaktif monoklorotriazin. Suhu pencelupannya antara 60 – 80OC.

SILAHKAN DOWNLOAD BERUPA MS.WORD AGAR LEBIH JELAS DISINI : —> zat warna reaktif

One thought on “ZAT WARNA REAKTIF

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s