Mengedepankan Baik Sangka untuk Menjaga Ukhuwah

_Jika keikutsertaan kita dalam barisan dakwah tulus, kita akan berbaik sangka dan ikatan persaudaraan kita menjadi kuat._
Saat menceritakan kisah taubatnya, Ka’ab bin Malik menyatakan, Rasulullah saw tidak pernah menyebut namaku hingga sampai di Tabuk, ketika duduk bersama sahabat-sahabatnya.

Beliau bertanya, ‘Apa gerangan yang dilakukan oleh Ka’ab bin Malik?’ 

Seorang dari Bani Salamah menjawab, Wahai Rasulullah, dia tidak berangkat karena lebih suka berteduh dan senang melihat kebunnya.’ 

Tiba-tiba Mu’adz bin Jabbal menimmmpali, _’Buruk sekali ucapanmu itu! Wahai Rasulullah, demi Allah, selama ini kami tak pernah menemukan kejelekan padanya.’_

Rasulullah saw hanya diam.  

Terkadang gejolak emosi sesaat membutakan mata kita hingga buruk sangka terlontar begitu saja tertuju pada seorang sahabat. 

Kita lupa dengan kebaikan-kebaikan yang telah diperbuat, dan yang kita ingat hanya kesalahan yang kadang tak berarti. 

Mari kita jaga ukhuwah dengan mendahulukan prasangka baik kepada saudara kita agar kebersamaan di jalan dakwah ini tak menorehkan luka. 

Apakah sekedar nila setitik akan rusak susu sebelanga? 

Kita ini kumpulan manusia bukan kumpulan para Nabi apalagi malaikat. Kesalahan dan kekhilafan perlu disadari bahwa itulah kelemahan sisi kelemahan kita. 

Bahkan jika kita mau menilik kepada diri kita sendiri, seberapa banyak noda dan dosa yang pernah kita lakukan, tanpa kita sadari atau pun yang kita sadari. 

Siapapun yang berani jujur melihat dosa atau aib diri sendiri, tak akan mudah mencela orang dan memosisikan orang lain tersebut bersalah. 

_Berbaik sangkalah agar ukhuwah semakin indah_

_Berbaik sangkalah agar dakwah semakin merekah_

_Dan berbaik sangkalah agar perjuangan membawa kita ke Jannah._

_Tabayun adalah sarana untuk mengurai segala permasalahan._

_Tabayun lebih memberi ruang dengan tak sekedar menyalahkan._

_Dan tabayun menjadikan kita lebih bijaksana dan berperikemanusiaan._

Diam menjadi pilihan terbaik untuk menjaga diri dari keburukan dan kesesatan. 

Keselamatan kita di dunia dan akhirat terletak pada hati dan lisan kita. 

Hati yang terjaga, lisan yang tertatan, kemuliaan akan mengiringinya. 

Insya Allah…..

Jangan kotori hati dengan saling membenci. 

Jangan perkeruh suasana dengan lisan yang kurang tertata

Dan jangan rusak persaudaraan dengan penilaian yang tak beralasan.
Semoga kita segera mengevaluasi diri agar terjaga hingga akhirat nanti.

Wallahu  A’lam.
sumber : http://www.manis.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s