Ketahanan Luntur Zat Warna Reaktif

  • Ketahanan Luntur Zat Warna Reaktif [5,8]

Pada umumnya zat warna reaktif memiliki nilai tahan luntur warna terhadap pencucian dan gosokan yang baik, yaitu 4 sampai 5. Namun ketahanan luntur warnanya dapat menurun apabila setelah pencelupan tidak dilakukan proses penyabunan atau proses penyabunannya kurang sempurna.

Dalam proses pencelupan zat warna reaktif, selain terjadi reaksi fiksasi dengan serat, zat warna reaktif juga mengadakan reaksi dengan alkali dan air (hidrolisa). Zat warna yang terhidrolisa ini akan tinggal di dalam serat, tetapi tidak berikatan kovalen dengan serat sehingga ikatan yang mungkin ada antara serat dengan zat warna tersebut hanya berupa ikatan dari gaya Van Der Waals dimana kekuatan ikatan jenis ini relatif lebih lemah bila dibandingkan ikatan kovalen yang ada pada zat warna yang terfiksasi dengan serat. Oleh karena itu sisa-sisa zat warna yang terhidrolisa yang tertinggal dalam serat harus dihilangkan, salah satu caranya melalui penyabunan agar ketahanan luntur warna hasil pencelupannya menjadi meningkat.

  • Sifat pencucian Zat Warna Reaktif

Zat warna reaktif dalam serat yang tidak fiksasi pada umumnya telah rusak terhidrolisa, sehingga ikatan yang mungkin ada antara serat dengan zat warna tersebut hanya berupa ikatan dari gaya Van der Waals, ionik atau ikatan hidrogen, dimana kekuatan ikatan jenis tersebut relatif lebih lemah bila dibanding ikatan kovalen yang ada pada fiksasi dengan serat. Oleh karena itu bila makin sedikit sisa-sisa zat warna yang terhidrolisis tertinggal dalam serat maka ketahanan lunturnya akan semakin meningkat.

Banyak sedikitnya sisa zat warna yang tidak fiksasi tertinggal dalam serat tergantung pada dua faktor, yaitu baik tidaknya proses pencelupan serta baik tidaknya proses pencucian setelah proses pencelupan guna membuang sisa-sisa zat warna yang tidak fiksasi tersebut.

Proses pencelupan yang kondisinya sesuai dengan zat warna dan bahan yang dicelup akan mendukung diperolehnya dua hal penting, yaitu efesiensi fiksasi yang tinggi dan tidak menimbulkan efek pencelupan cincin.

Proses pencelupan yang efesiensinya tinggi serta tidak menimbulkan efek pencelupan cincin akan memudahkan dalam membuang sisa zat warna yang terhidrolisi yang ada pada serat. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.9 di halaman 16.

Zat warna yang fiksasi
Zat warna yang terhidrolisa
(a)Pencelupan cincin
   dalam
luar
   serat
luar
   dalam
   serat
(b)Pencelupan normal

 

 

 

 

 

 

Sumber : Dede Karyana, Struktur Kimia Zat Warna Reaktif dan Daya Celupnya, STTT, Bandung, 1998,

Gambar 2.9 Efek pencelupan cincin pada pembuangan zat warna yang tidak fiksasi

Keterangan :

  • pada pencelupan cincin ada efek tolakan muatan, zat warna yang terhidrolisi sukar dikeluarkan.
  • pada pencelupan normal, efek tolakan muatan ternetralkan, zat warna yang terhidrolisis mudah dikeluarkan.

Pada kondisi pencelupan yang kurang baik sehingga timbul efek pencelupan cincin, zat warna yang fiksasi cenderung terkonsentrasi pada permukaan serat, sehingga muatan negatif zat warna (dari gugus pelarutnya) juga terkonsentrasi di daerah permukaan serat. Akibatnya zat warna yang terhidrolisis dalam serat (yang juga gugus pelarutnya bermuatan negatif) akan sulit keluar melewati permukaan serat, karena ada efek tolak menolak muatan listrik yang sama diantara zat warna yang terhidrolisis tersebut dengan zat warna yang tidak fiksasi di sekitar permukaan serat. Untuk kasus tersebut tentu saja akan memerlukan proses pencucian yang lebih kuat.

SILAHKAN DOWNLOAD DISINI : —>Ketahanan Luntur Zat Warna Reaktif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s